AGAR TULISAN ANDA ENAK DIBACA

12715653_947722451972550_2056967258176253652_n

Penulis adalah profesi kecelakaan saya. Sekitar tahun 2005, saat mulai berbagi (gratis) di Batam TV dan Radio Kei FM Batam, surat kabar Batam Pos menawarkan saya untuk mengisi rubrik bisnis mingguan. Saya jawab ke pimred Batam Pos saat itu, “Wah, saya ini bukan penulis seperti Mas Ippho. Kalo bicara nyeplos saya bisa”. Beliau menjawab, “Ya udah gini aja Mas J, saya kirimkan wartawan. Mas J diwawancara, kemudian dituliskan”.

Deal..!

 

Minggu depannya, saat tulisan perdana terbit, saya langsung berduka. Lha koq tulisannya gak sesuai dengan apa yang saya bicarakan? Apalagi sifat perfeksionis menjadikan saya susah menerima standar orang lain yang menggunakan nama saya (seolah ditulis sendiri). Kemudian saya mengatakan, “Pak, mulai minggu depan saya aja yang nulis”. Bisa jadi juga itu konspirasi Batam Pos yang memepetkan saya untuk mulai menulis. Selama 1 jam lebih, saya tak mendapatkan 1 paragraf pun. Tulis sedikit, hapus lagi. Tulis lagi, hapus lagi. Ternyata gak gampang nulis.

 

Kemudian saya menelepon Mas Ippho, menanyakan tips buat penulis pemula kayak saya. Mas Ippho bilang, “Udah, Mas tulis aja sembarang, ntar email ke aku. Biar aku edit gaya bahasa dan EYD nya”. Dapat beberapa paragraf, saya kirim ke Mas Ippho dan gak sampai 1 jam, dibales email saya dengan tulisan yang cakep abis. Buseett, canggih amat nih orang.Tahun 200 8, saat penyelesaian buku pertama saya, The Power of Kepepet (setelah 2,5 tahun menulis), saya mendapat bantuan sahabat ayah saya, Ir Bagiono Djokosumbogo, sebagai editor buku saya. Makin ketemu pola bagaimana menulis yang menarik. Sebagai catatan, Pak Bagiono adalah pendiri STM Pembangunan Semarang dan mantan Atase Kebudayaan Perancis. Jadi jangan kaget kalau buku pertama saya sangat sesuai EYD banget, he he.

 

Karena saya bukan orang yang rajin membaca, maka saya sangat paham keluhan para pembaca. Inilah kaidah-kaidah yang saya buat dalam menulis, agar ‘sejuta umat’ menyukai tulisan Anda:

Visualisasikan

Jauh sebelum saya menulis biasanya saya mem-visualisasikan diri saya (seolah) sedang berbicara dengan Anda. Maka dari itu bahasa saya adalah bahasa auditori, seolah saya sedang berbicara dengan Anda, betul?

Rumusannya seperti ini:
– Saya membayangkan diri saya sedang berbicara kepada Anda.
– Saya juga membayangkan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan Anda kepada saya.
– Saya membayangkan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
– Saya mengulang berkali-kali di benak saya, hingga tak ada lagi sanggahan atau pertanyaan yang kurang jelas.
– Saya menuliskan.

Visualisasi dapat dilakukan dimanapun. Saat mengemudi, tiduran, berenang, apalagi saat buang air >> paling tokcer.

 

Mulai dari poin-poin

Ide itu mahal dan gak setiap saat datang. Jadi siap selalu catatan atau aplikasi untuk mencatat.
– Tuliskan poin-poin penting yang terlintas di benak Anda, tak perlu rapi.
– Pindahkan ke laptop dan tambahkan keterangan-keterangan, terutama dari hasil visualisasi.
– Jangan melakukan editing sambil mengetik. Ketik aja dahulu, edit kemudian, agar tulisan Anda mengalir.

Pit stop

Pembaca pemula (orang yang jarang membaca), biasanya tak tahan untuk membaca terlalu lama. Jadikan tulisan Anda seperti Rally Wisata, perbanyak pemberhentian. Perhatikan buku-buku saya punya pola serupa. Tak sampai 1,5 halaman, selalu ada sub judul, quote atau gambar.

 

Jelaskan ‘smurf’ dengan contoh

– Dalam 1 paragraf, jangan ada lebih dari 1 kata asing (smurf).
– Jelaskan 1 smurf dengan minimal 2 contoh.
– Hubungkan 1 smurf dengan kata-kata yang (kira-kira) orang awam mengetahuinya. Bukan: “Smurf itu adalah suatu smurf yang men-smurf agar smurf“. Pegel nian otak awak.
– Guru yang canggih, mampu menyederhanakan kata-kata, bukan terlihat canggih, tapi membuat pembaca puyeng.

 

Tanda baca

– Tanda baca membantu pemahaman si pembaca. Kapan harus ‘tarik nafas’, jalan terus dan berhenti.
– Saat membaca ulang, ikuti tanda baca yang Anda gunakan. Apakah sebagai pembaca, Anda ngos-ngosan, karena terlalu panjang pemutusan? – Jika ‘iya’, potong menjadi 2 atau 3 kalimat. Apakah terjadi salah pengertian dikarenakan salah pemenggalan?
– Sebisa mungkin gunakan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan bahasa baku. Jika terpaksa menggunakan bahasa asing atau prokem, gunakan huruf miring (italic).

 

Baca ulang minimal 2 kali

– Bacalah ulang seolah Anda adalah audiens yang Anda ceritai. Kira-kira mereka bisa menangkap pesan Anda kah?
– Hindari pengulangan kata sambung yang sama dalam 1 paragraf. Misalnya kata ‘tapi’sudah digunakan, maka gunakan kata ‘namun’, dalam paragraf yang sama.
– Perhatikan alur tulisan Anda, apakah sudah ‘runut’ dan mudah dipahami oleh pembaca Anda? Susun ulang jika belum.
– Tutup tulisan dengan kesimpulan atau kata-kata mutiara, agar kesan itu ‘nempel’ dan ‘nampol’. Lebih nampol lagi, jika diberi mutiara beneran.

 

Khusus media Sosial

– Karena media sosial seperti FB, Instagram, Twitter tak ada huruf tebal (bold), maka gunakan huruf besar (kapital) sebagai gantinya.
Terlalu banyak huruf besar, akan merusak fokus dan kenyamanan pembaca.
– Batasi 1 paragraf dengan maksimum 8 baris, agar memudahkan membaca via smartphone (socmed).
– Khusus di Twitter, karena terbatas, boleh menggunakan singkatan, tapi gunakan yang lazim dipahami. Hindari singkatan bertubi-tubi dalam 1 kalimat.

 

Ada yang bertanya, “Mas J, koq buku-buku Mas J berbeda dengan buku-buku bisnis lainnya?”. Kuncinya, saat menulis, saya singkirkan semua buku yang ada. Biarkan tulisan kita original pemikiran dan bahasa kita. Jika ada saduran, sertakan sumbernya.

 

“Mahir itu hasil dari rajutan ketekunan yang dilakukan tahunan..”

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment