ILMU DASAR vs TERAPAN

Saat memulai usaha di tahun ’98, ada perasaan ‘gamang’ dan bertanya,”Apa yang harus kupelajari untuk menjalankan bisnis?”. Karena di Batam saat itu tak ada seminar atau training bisnis, maka saya putuskan untuk belajar dari buku. Sayang sekali buku wirausaha nyaris tidak ada. Yang banyak hanyalah buku-buku manajemen ala perusahaan multinasional. Om Bob Sadino belum mengisi seminar, masih menjadi bintang film.

 

Alhasil agak ‘mrikitiw’ saat menerapkan di usaha kecil yang saya bangun. Bicara struktur organisasi saja, saat itu hanya ada 2 manusia: Saya dan admin. Job desc saya:
– sales
– buyer
– jemput barang di pelabuhan.
– angkat dan antar barang ke konsumen
– membenahi sistem administrasi di malam hari.
Setiap hari rata-rata saya menyetir mobil (sendiri) sejauh 100 km.

 

Kalau bicara teori manajemen, ya udah gak masuk akal. Selain jam kerja saya 16 jam sehari, juga harus pandai mengatur fokus pikiran dan stamina.

 

Tahun 2000-an (masih di Batam), saking hausnya terhadap ilmu bisnis, apa saja training bisnis dan pemasaran saya ikuti. Training pertama yang saya ikuti adalah “The Right Way of Doing Powerful Marketing Research”, yang diadakan oleh Frontier, milik Pak Handy Irawan, selama 3 hari 2 malam di Puncak, Bogor. Dari seluruh peserta, hanya saya yang skala UKM, lainnya adalah utusan dari perusahaan multinasional, sekelas manager dan direktur. Minder sih tidak, tapi saat menyimak materinya, saya menerawang, “Ini gimana nerapin ke bisnisku yah? Mbuat kuesioner masih bisa, yang mau bagiin, wawancara, ngolah data, siapa? Memilih bintang iklan yang pas untuk media >> duite Mbahmu tho?!”. Sedangkan di skala UKM, mbok mbok mau posting produk kita aja, langsung tumpengan, hehehe..

 

Meski demikian, saya tetap mengikuti training bisnis dan psikologi (terapan) rata-rata 3 – 5 kali, plus puluhan buku pertahun. Saya menerapkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan ke bisnis saya. Alhasil: beberapa bangkrut.

 

Yang saya masih ingat banget adalah penerapan ‘branding’ di usaha rumah makan “Ikan Bakar Papafish”. Suatu saat kakak saya menyarankan, “Yak, mending paginya kita jualan lontong sayur aja, buat nambah pemasukan”. Kemudian saya menyanggah, “Gak boleh itu. Menurut Al Ries di 22 Immutable Law of Branding, nganu nganu nganu…” >> Teori tok..!! #PLAAKKK

 

Bertahun-tahun kemudian setelah tutup, saya baru menyadari apa kesalahan saya. Dimana letak kesalahannya? Ilmunya sih benar, tapi untuk kondisi tertentu, bukan seperti usaha kecil saya yang serba pas-pasan saat itu. Yuk kita bedah..

 

ILMU TERAPAN

Adalah ilmu yang dirancang khusus untuk mayoritas target pasar tertentu dalam kondisi tertentu. 7 Formula Buka Langsung Laris adalah ilmu terapan, sangat cocok untuk pemula atau UKM, bukan untuk perusahaan multinasional. Perhatikan beberapa poinnya:

1. Membidik Pasar Potensial; Menggunakan kata kunci ‘pasar potensial’. Bukan berarti membididk pasar ‘berdarah’ dan ‘tidur’ tidak baik, tapi tak sesuai dengan ‘amunisi’ UKM yang pas-pasan. Jika amunisi Anda besar, masuk ke pasar yang masih tidur, dengan menjadi yang pertama adalah terbaik. Atau masuk ke pasar yang berdarah dengan prinsip ‘indirect monetize’, bagus juga. Kalau puyeng, abaikan saja. Kita bahas di sesi lain.

 

2. Menciptakan Produk yang Ngangenin; Bermakna produk yang dibeli bukan sekali pukul, melainkan ada pengharapan ‘repeat order’. Bukan berarti bisnis ‘musiman’ tidak bagus lho, namun lebih menekankan membangun bisnis yang akan dikonsumsi/digunakan berulang dan jangka panjang umur bisnisnya. Tentu bagi tipe ‘pedagang musiman’ yang sekali ‘jebret’ dapat order besar, gak peduli orang puas atau gak, asalkan untung, hal ini tak cocok.

 

3. Kemasan yang Pertama diambil; Karena dana distribusi UKM nyaris nol, jika produk didistribusikan di retail store, biasanya tak mendapat tempat yang strategis. Maka dari itu perlu desain dan warna yang menyolok, sehingga keterlihatannya tinggi. Efektif, meski belum tentu Estetik.

 

Begitu juga dengan formula 3 hingga 7, dirancang untuk pengusaha pemula dan bermodal cekak. Di pemilihan saluran distribusi dan promosi sangat menyolok saya menggunakan istilah D = P >> saat mendistribusikan juga memasarkan, dimodali orang lain. Tentu gak sejalan dengan pemasaran multinasional yang menggunakan distribusi konvensional semerata mungkin dan mass marketing.

 

ILMU DASAR

Jika 7 Formula Buka Langsung Laris di ZOOM OUT, akan ketemu ilmu dasarnya:

1. Riset Pemasaran (Market Research)
2. Riset Produk
3. Riset Kemasan
4. Merek
5 – 7. Distribusi dan Promosi

 

Bisnis Model Canvas ilmu terapan atau Dasar?

BMC adalah salah satu tool bisnis terapan terbaik yang pernah saya pelajari, karena ‘hampir’ bisa diterapkan baik di perusahaan besar maupun kecil. Adapun ilmu dasar dari BMC salah satunya adalah Input Output Analysis. Silakan tonton video untuk mendapatkan hubungan keduanya.

Kenapa kebanyakan ilmu manajemen dan pemasaran multinasional tidak cocok untuk UKM? Sebabnya antara lain:

1. Jumlah sumber daya yang terbatas, membuat 1 orang memiliki job description yang tumpang tindih.
2. Kesiapan sumber daya yang berbeda dengan perusahaan multinasional.
3. Dana yang cekak membuat UKM mengutamakan kecerdikan mengatur arus kas.

Bukan berarti kita tak boleh belajar ilmu manajemen multinasional. Penekanan saya adalah: Cari ‘esensi’ ilmu dasar dari setiap tool manajemen yang Anda pelajari.

Apa tujuan utama tool tersebut dibuat?
Apa poin penting di setiap langkahnya?
Apa yang bisa diterapkan dan sulit diterapkan di usaha Anda?
Langkah apa yang bisa menggantikan, yang tetap sesuai tujuan?

Jika belajar ilmu manajemen umum, jangan ditelan mentah-mentah. Pilah dahulu, ambil daging yang bisa Anda makan, buang durinya.

Tapi……….
Tentu tak mudah untuk memahami esensi suatu formula. Maka dari itu sejak sekolah pun kita sering ‘menghafal rumus’ dibanding memahami “dari mana rumus tersebut diperoleh”.

“Terus harus bagaimana bagi pengusaha pemula seperti saya, Mas J?”
Ya tinggal pilih ilmu terapan untuk pengusaha pemula, yang telah teruji untuk pemula juga.

“Jika Anda bukan sekelas Mujtahid, ikutilah Imam Madzab yang ada..”