KASTA TERSELUBUNG

Sepulang dari Korea di awal tahun, saya bersama Reza Galih Permana(Sheika Hijab) dijemput Andi, empunya Bakso Ajo. Karena Andi barusan buka cabang baru di daerah Klender, Jakarta Timur, kita pun diajak menengok tempatnya.

Tak nampak spesial; seperti warung bakso kebanyakan, bahkan interiornya terbilang parah untuk sekelas bakso ajo yang berkualitas. Tak berapa lama sampai, datang bos jaringan waralaba Lele Lela, Rangga Umara.

Saya memesan Sup Iga plus Bakso, kelaperan dan kangen masakan Indo setelah seminggu ‘puasa’ di Korea. Melihat harga ‘super murah’ untuk makanan berkualitas seperti itu, jadi gregetan. Sembari makan, saya mengamati interior sekitar, sambil ngelap keringat, karena ruangan panas, tak ber-AC.

Kemudian saya nyeletuk dengan gaya mentor, “Ndi, kenapa kamu gak bagusin interiornya? Kasih AC, biar gak kringetan..!”. Andi menjawab, “Ntar kalo dibagusin, investasi naik, harga jadi gak terjangkau, Pak”.

Saya menimpali, “Ya gak papa naikin aja harganya, bidik target pasar yang beda, tinggian dikit..!”. Dengan mimik muka memelas, Andi menjawab, “Kasihan Pak. Andi penginnya Bakso Ajo bisa dimakan semua kalangan”. #PLETAAKK

Serasa dijejali tulang iga di mulut, kemudian ditampar pakai sandal. Ternyata saya yang sering teriak Anti Kapitalis, malah saya sendiri yang kapitalis akut. Dalam hati saya istighfar (iya dalam hati, karena gengsi), kemudian berkata, “Bener juga kamu Ndi. VALUE itu..!”.

Malam itu saya mendapat pelajaran berharga dari Andi Ajo. Jadi teringat kata-kata Pak Widya, penerus Kopi Aroma, Bandung, “Saya dapat kopi dengan harga murah, karena langsung dari sumbernya, gak lewat tengkulak. Makanya saya bisa jual dengan harga terjangkau. Biar yang kaya atau miskin tetap bisa menikmati Kopi Aroma”.

Sampai sekarang Bakso Ajo belum diwaralabakan, meski sekelas Ritz Calton adalah pelanggan (corporate) rutin Bakso Ajo. Iya bener.. makan bakso di Ritz Calton, sama dengan Bakso Ajo di pinggir jalan. Beberapa kawan TKI yang pulang dari merantau, tak hanya diajarkan Andi secara terbuka resepnya, tapi juga didampingi berhari-hari jelang pembukaan. Dan itu semua gratis.

Alhamdulilaah.. saya tak salah memilih orang. Tahun lalu saat menyusun daftar mentor di Kampung Juragan, saya mengatakan kepada Andi, “Ndi, aku mau kamu jadi tetanggaku di Kampung Juragan..!”. Kenapa demikian? Karena sejak awal saya tahu bahwa si Tukang Bakso satu ini punya ‘Value’ yang kuat dan pantas jadi panutan. Dia tahu ‘kata cukupnya’ dan tahu makna ‘menjaga keberkahan’ dalam setiap proses bisnisnya.

Menciptakan JURANG SOSIAL

Saat diajak jamuan makan malam, saya sering mendengar istilah ‘Tempatnya BERKELAS‘. Tak terasa kita turut serta menciptakan KELAS SOSIAL yang memisahkan antara si kaya dengan si miskin. Lebih diperkuat lagi jurang itu menjadi kebanggaan bahwa kita telah berada di posisi sosial tertentu. Foto-foto memamerkan resto dan makanan bintang lima, untuk menunjukkan seberapa tinggi kasta kita dibanding yang lain, bukan karena ‘rasa’ yang pantas dibayar mahal.

Sementara tak jauh dari resto mewah tempat kita makan, ada seorang pemulung yang makan sekali sehari, hanya 7 ribu rupiah. Kebiasaan ‘Makan karena Kasta’ akan membuat KEPEKAAN SOSIAL kita berkurang dan qalbu kita mengeras. Naudzubillahi min dzaalik..

“Biarkan aku makan karena rasa, bukan karena kasta..”

Attachment