Kata ‘Cukup’ Pemilik Kopi Aroma

 

widya kopi aroma.001

Kopi Aroma adalah satu-satunya kopi yang saya minum secara rutin (bersama madu, tanpa gula). Disamping aromanya yang wangi, juga tidak menaikkan asam lambung saya.

Pak Widya Pratama adalah generasi kedua, penerus Kopi Aroma. Kopi yang didiamkan selama 5 – 8 tahun, baru diproses ini sangat fenomenal, hingga Howard Schultz saat berkunjung ke Indonesia, menyempatkan diri untuk menyicip kopi ini yang berlokasi di Jalan Banceuy, Bandung.

Kopi Aroma merupakan salah satu destinasi field trip wajib bagi siswa Young Entrepreneur Academy (YEA), karena ‘value’ bisnis yang dianut oleh Pak Widya Pratama, yang juga seorang dosen.

Kapasitas produksi Kopi Aroma hanya 300 – 400 kg perhari, menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Jadi bisa ditakar omzet Kopi Aroma mentok hanya sekitar 40 jutaan saja. Tak bertambah kapasitas sejak tahun 1930.

Saat ditanya, “Kenapa Pak Widya tak mau memproduksi lebih?”.

Jawabnya, “Jika saya produksi lebih, maka petani akan membuka lahan lebih, kayu bakar yang diperlukan juga lebih, sehingga akan menebang hutan lebih, maka saya akan andil dalam kerusakan alam.”

Jarang sekali di era kapitalis saat ini, kita masih menemukan seorang pengusaha yang berkata ‘cukup’ atau tidak serakah, disaat produknya laris manis di pasaran. Bahkan harga kopi aroma saat ini hanya 16 ribu saja per 250 gram.

Berapa angka cukupmu?

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment