KENAPA UNIVERSITAS JARANG MENELURKAN PENGUSAHA?

12549131_940237716054357_1355054328606600165_n

Jika ‘pengusaha’ ibarat kue, seperti brownies, kek pisang dan lainnya, maka untuk meramunya membutuhkan:

• Komposisi bahan; materi apa saja yang perlu diajarkan?
• Takaran; berapa porsi masing-masing materi?
• Urutan; mana duluan, pemasaran, manajemen, akutansi?
• Cara Pengerjaan; bagaimana cara pengajaran yang sesuai untuk calon pengusaha?
• Alat; simulasi, role-play, praktik, agar siswa mudah memahami.

 

Saya akan bahas 2 hal pertama saja, yang membuat hampir semua universitas melakukan kesalahan yang serupa. Sebetulnya bukan salah, jika mereka tak men-cap dirinya sebagai “Sekolah Pencetak Pengusaha”, melainkan mencetak pekerja profesional. Coba googling 10 “Sekolah Bisnis Terbaik di Indonesia”, kemudian cek program studi yang tersedia, maka mayoritas Anda akan menemukan penjurusan prodi seperti:

• Manajemen Pemasaran
• Akutansi
• Administrasi Bisnis
• Studi Pembangunan

Padahal untuk menjadi seorang pengusaha, ketiga ilmu pertama diperlukan, hanya saja porsinya tak sama dan urutan pengajarannya perlu diperhatikan.

 

Mengajarkan akutansi tak boleh di awal. Apa yang mau dibukukan, kalau penjualan saja belum ada. Apalagi pengusaha pemula dengan modal cekak, biasanya memulai usaha dari dirinya sendiri. Ilmu pemasaran (praktis) harus diajarkan saat awal. Setelah duit lancar (profit), baru mulai belajar menata keuangan dan ‘membaca’ laporan keuangan. Biarkan akuntan yang membuat laporan keuangan. Mrikitiww tauu..

 

Jadi, ilmu pemasaran adalah mutlak wajib bagi seorang pengusaha. Bagaimana menghasilkan duit kalo gak bisa menjual? Bagaimana tahu kondisi perusahaan, jika tak tahu ilmu akutansi dasar? Bagaimana Bisnis akan difranchisekan jika tak paham administrasi bisnis? Kecuali siswa ingin menjadi profesional di bidang pemasaran, akutansi, administrasi, maka penjurusan program studi diatas sangatlah tepat.

 

Bagaimana penjurusan yang benar? Sebenarnya tak harus ada penjurusan pada saat awal, karena materi dasar menjadi pengusaha adalah sama. Setelah 6 semester (untuk S1), barulah bisa dijuruskan sesuai jenis usahanya, seperti:
• Perdagangan (B2B)
• Retail (B2C)
• Jasa
• Produksi
• Kuliner

 

Itupun masih bisa meleset, dikarenakan siswa belum terjun (praktik) membangun usaha. Bisa jadi yang tadinya buka usaha kuliner, berpindah ke konveksi (produksi). “Pemasaran via Internet masuk dimana Mas J?” >> Masuk materi wajib pemasaran kekinian. Kecuali mau memasarkan ke dinosaurus. Kurikulum sekolah bisnis sudah saya rumuskan dalam materi “5 Tangga Bisnis”. Kembali lagi, tak mudah tentunya merombak program studi dan sistem terkait dalam suatu universitas yang sudah kompleks. Dibutuhkan keberanian rektor dan regulasi/dorongan dari pemerintah.

 

Menciptakan pebisnis, perlu generalisasi.
Menciptakan profesional, harus spesialisasi.

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment