KISAH KESOMBONGANKU

 

Surabaya, Maret 1997, hari terakhir di rumah kos, saya berpamitan untuk esoknya pulang ke Semarang dan melanjutkan panggilan kerja ke Batam.

Di kamar kakak kelas, Budi Ansyari, bersama dengan adik kelas saya, Oki, dan seorang yang saya kagumi, Agil Assegaf, kami duduk bersila. Saya membuka percakapan..

“Mas Agil, besok aku kan aku udah gak (kos) di sini lagi. Boleh gak aku minta wejangan dari Mas Agil, apa yang harus aku perbaiki didiriku?”

Ada suatu alasan yang kuat kenapa saya memilih sosok Agil, senior 1 kos saya, untuk memberikan masukan kepada saya. Agil tak istimewa dalam prestasi akademis. Bahkan saat saya lulus kuliah, dia masih belum menyelesaikan skripsinya. Padahal dia adalah kakak kelas 1 tahun mendahului saya. Dia pernah memberikan pengakuan kepada saya, “Aku gak pernah ‘lolos’ sholat 40 hari. Ada aja yang membuatku ‘putus’ sebelum 40 hari.”

Kamar Agil nyaris tak pernah tertutup, karena saking ramainya kawan-kawan dia berkunjung tak kenal waktu. Suatu saat pintu kamarnya tertutup, saya mendegar isak tangis di dalam. Kemudian saat saya ngintip dari jendela nako kamarnya, saya melihat dia duduk bersimpuh di sajadah, sedang bermunajat kepada Allah hingga menangis tersedu-sedu, seolah dia sudah melakukan dosa yang sangat besar.

Saya pernah bertanya kepada Agil, “Mas, berapa mas (bayar) abonemen katering ke Emak (pembantu kos) tiap bulannya?”, karena saya sering melihat Emak membawakan makan ke Agil. “Abonemen katering? Gak ada koq Jay. Itu Emak aja yang baik sama aku”, jawab Agil.

Agil adalah sosok yang paling dicintai dan dermawan di kosan kami. Hal itulah yang membuat saya ‘iri’, kemudian mendorong saya untuk bertanya apa rahasianya dan apa yang harus saya perbaiki.

Inilah Jawabannya..

“Mas Agil, besok aku kan aku udah gak di sini lagi. Boleh gak aku minta wejangan dari Mas Agil, apa yang harus aku perbaiki didiriku?”, tanya saya.

Agil: Yakin loe Jay mau dengerin?!

Saya: Iya Mas. Diantara kawan-kawan disini, Mas Agil yang paling aku tuakan dan teladani.

Agil: Jay, gue sayang banget sama loe. Loe udah gue anggap adik sendiri. Cuma 1 yang gue gak suka dari loe. Loe tuh SOMBONG..! #Jeduerrr (muka saya langsung meradang)

Saya: Sombong? Boleh tahu sombong seperti apa yang Mas Agil maksud? Apa yang mau aku sombongin, kuliah aja naik sepeda ontel!

Agil: Jay, sombong itu bukan hanya masalah harta, tapi lebih bahaya yang lainnya. Jay, kalo bicara hal amalan sholat, dzikir, ngaji, gak ada yang menang dengan loe di kosan ini. Tapi kalo gue suruh pilih imam sholat gue… GAK BAKAL GUE PILIH LOE. Gue pilih Oki (adik kelas semester 1, yang kebetulan duduk di antara saya dan Agil saat itu). Tahu kenapa?

Saya: Gak tahu Mas…

Agil: Karena loe sombong. Bukan karena harta, tapi karena sikapmu. Kalo loe gak suka dengan seseorang, loe seolah gak akan membutuhkan dia lagi, gak mau ketemu dia lagi. Padahal bisa jadi dia akan jadi menolongmu suatu saat nanti.

Saya hanya termenung…

Agil: Jika hati ibarat tempurung kelapa (sambil memperagakan dengan tangan kanan di bawah menegadah keatas) dan air yang menetes ibarat amalanmu, maka seberapa deras amalanmu tak akan terkumpul, jika tempurung kelapa itu bocor (sombong). Sedangkan kenapa aku pilih Oki? Karena meski Oki ilmu agama dan amalannya (dzikir) biasa saja, tapi karena kebersihan hatinya, amalan itu akan terkumpul. Tempurung kelapa itu akan penuh.

Suasana menjadi tegang, Oki dan Mas Budi siap beranjak, namun saya tahan kedua kaki mereka dan berkata, “Gak papa Ki, Mas Bud, tetap disini aja. Aku tahu ini gak enak buatku, tapi aku tahu ini bagus buatku.”

Malam hari itu saya termenung, memang benar, kala itu kawan dekat saya bisa dihitung jari. Jika saya tak cocok dengan sikap seseorang, saya cenderung tak mau mendekat dan berkumpul dengannya. Kebencian saya menutup segala kebaikan dan kebenaran pada dirinya, seolah hanya saya yang benar.

Saat itu juga saya berjanji kepada diri dan Allah tentunya, saya akan berusaha mengubah sikap kesombongan saya. Meski saat ini masih tersisa (banyak) kesombongan, saya mensyukuri pertemuan itu. Sayangnya, malam itu adalah malam terakhir saya bertemu dengan Mas Agil. Hingga saat ini, belum ketemu jejak dia lagi. Bahkan sempat saya sayembarakan, hasilnya masih nihil.

Setiap malam takbiran, saya hanya bisa mengingat dan mendoakan dia, semoga keselamatan dan keberkahan berlimpah kepadanya. Semoga suatu saat saya bisa memeluk dan melepas kangen dengannya. Aamiin..

Yaa Latiif.. lembutkanlah hati ini..

“Jika hati ibarat tempurung kelapa dan air yang menetes ibarat amalanmu, maka seberapa deras amalanmu tak akan terkumpul, jika tempurung kelapa itu bocor (sombong)” ~ Agil Assegaf

Foto: 16 Desember 1996, bersama sahabat saya, bukan bersama Agil.

 

Attachment