Mana Merek yang Asli..

soto medan.006

Usai seminar Buka Langsung Laris di Batam, saya memenuhi titipan istri untuk membeli oleh-oleh Soto Medan yang ngangenin. Sesampai disana, langsung pesan 4 bungkus untuk dibawa pulang ke Bandung. Hanya saja ada sedikit keraguan, koq yang jual beda ya?

Karena ragu, saya Tanya: “Lho ini bukan yang dulu jualan ya? Pakdhe kemana?”.

Penjual: “Yang dulu tutup, yang ini lebih enak dari yang dulu”.

Saya: “Masalahnya saya mau bawa buat oleh-oleh ke Bandung, bukan buat coba-coba..!”.

Sembari menunggu racikan, langsung menyisir ke ruko sederetan, ternyata ada tulisan: “Soto Medan yang Asli pindah sini..!”. Kembali saya agak ragu juga beli disitu, karena yang jual ‘anak muda’, biasanya ‘pak tua’. Bener gak yaa?

Yang membuat saya tambah ragu, di ruko seberang ternyata juga ada tulisan: “SOTO MEDAN ASLI..!” >> wacauuu.. mana yang BENAR ASLI? Karena sama-sama ragu, saya balik ke yang pertama, ternyata belum selesai membungkus. Daripada kelamaan, saya bayar dan saya tinggal.

Lanjut…

Untungnya mereka punya cabang yang biasa saya beli di daerah Batam Center: “Soto Medan Budhe Sri” >> tahunya nama ini sesampai di lokasi. Namanya GENERIK, jadi gak saya ingat. Kita biasa sebut Soto Medan Kantor Pos >> karena lokasi dekat dengan Kantor Pos dan kebanyakan orang sudah menyebutnya begitu.

Setelah order, saya tanya, “Itu yang pusatnya di Kantor Pos tutup ya?”. Dia jawab, “Gak koq, pindah sampingnya..!”. Ternyata anak muda yang jual adalah anak si ‘Pakdhe’.

Olala.. begitulah kisah TRAGIS jika warung tak bermerek >> Seperti Si Manis Jembatan Ancol >> Cantik tapi tanpa nama. *serem

Apa “Dosa Bisnis” si empunya Soto Medan tersebut? Setidaknya ada 3:

1.Berfikir Sotonya Terenak, Cukup!

Jangan katakan: “Tak ada yang bisa buat seenak punyaku..!!” >> ini takabur..! Jaman serba ATM, jangankan soto medan, pesawat terbang saja Indonesia sudah bisa membuatnya. Banyak yang bisa membuat burger seenak McD, tapi tak ada yang setenar McD. ‘Enak’ itu penting, tapi ‘tempelkan’ label enak itu di merek Anda.

2.Membuat Merek Generik dan Terlambat

Merek adalah IDENTITAS. Manusia tanpa nama, susah membedakan si A dan si B, begitu juga bisnis. Saya bahkan sudah pernah mengingatkan si empunya tentang hal ini 6 tahun lalu, tapi disenyumi saja. Bahkan saya pernah menuliskan dalam suatu artikel: “Itu lho pecel lele depan Kantor Pos..” >> sudah digusur..! “Yang mereknya Sari Laut” >> cek deh, ada ratusan pecel lele yang pakai nama Sari Laut. Adapun nama Budhe Sri (generik), dia berikan di cabang yang dia buka, bukan di pusat yang pertama. Dan kebanyakan orang sudah ‘melabeli’ dengan merek “Kantor Pos” >> mereknya negara, gak bisa didaftarkan ke HAKI.

3.Propertinya Sewa

Sudah sering terjadi, jika suatu usaha penyewa laris manis, si empunya properti jadi iri. Kalo merek tak dibangun dengan kuat, maka ‘tempat’ akan menjadi satu-satunya faktor ‘hoki’. Merek adalah IDENTITAS dan KREDIBILITAS yang Anda bangun. Saat diusir atau bangkrut pun, merek yang paling berharga. Jangan sampai Anda hanya terlena dengan omzet saja, tanpa membangun merek bisnis. Akan beda pembuat Air Soda dengan pemilik merek Coca Cola.

Lebih detail tentang “Membuat Merek yang Ngetop?” Silakan baca di ebook Buka Langsung Laris.

Komentar

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555