MEDIA TANAM YANG SIAP

2 hari lalu saya bincang dengan Ustad Zuhri, guru ngaji kami, terkait “Kenapa Kampung Juragan di tempat yang sekarang (sekitar Rawapening), bukan di dekat Waduk Saguling?”. Padahal kami mendapatkan tanah di pinggir Waduk Saguling lebih murah dan lebih dekat dari rumah saya saat ini.

Inilah kisah renungan saya..

Di halaman belakang rumah saya, ada pohon pepaya yang buahnya lebat. Padahal saya tak pernah menanam, menyiram dan memupuknya. Disamping pohon pepaya, ada pohon jambu dan jeruk yang buahnya lebat juga, hingga nyaris menyentuh tanah.

Kenapa bisa begitu?

Tentu karena Allah, namun wasilahnya adalah ‘Media Tanam‘ yang subur, tak terkontaminasi oleh pupuk non organik. Tanah (media tanam) yang dicemari oleh pupuk non organik, akan menjadi ‘rakus‘ dan tak subur. Rakus meminta pupuk non organik dengan dosis lebih besar, untuk menghasilkan panen yang serupa dengan sebelumnya.

Manusia adalah ‘Media Tanam Ilmu‘. Jika pikiran dan hatinya sudah sering terkontaminasi oleh faham non organik, maka ‘kesuburannya hilang‘. Untuk siap ditanami dengan sistem organik, akan membutuhkan waktu lama dan treatment khusus untuk ‘pemulihan‘ kesuburan tanahnya.

Mereka yang sudah mengenal serta memakai banyak ‘trik licik’ dalam berbisnis, menyentuh riba, percaloan, serba komisi, pikiran dan hatinya terkontaminasi dengan budaya instan. Sehingga sulit bagi kita mengajarkan ilmu yang organik ke mereka.

Alhasil cara kita pun dicaci ‘kelamaan‘, udah jadul, gak update.

Saat survei di sekitar Waduk Saguling, saya merasakan ‘aura oportunis‘ di wajah mereka, baik saat menanyakan informasi tanah ke warga atau bahkan pengurus masjid sekalipun. Seperti pepatah, “Dikasih hati minta ampela”. Bahkan belum dikasih, juga udah terlihat akan memangsa kita. SMS pun menggunakan sapaan ‘Bos‘ >> tak akan terjadi di ‘tanah organik‘, apalagi pengurus masjid. ‘Bos‘ adalah istilah dunia bisnis, bukan agama.

Beda banget saat survei di desa sekitar Rawapening, aura ketulusan itu terasa. Sapa khas warga desa yang ‘organik‘ membuat ‘mak nyess’ di hati. Emang benar, “Hati (yang organik) gak berbohong”. Semoga hatiku masih organik juga. Mereka terbiasa “Give, without expect to take“, sehingga ketulusannya terjaga. Meski tentu saja akan selalu ada yang oportunis. Namanya juga akhir jaman, debunya riba telah kita hisap sehari-hari.

Kampung Juragan akan menjadi pusat pengaderan pebisnis bermoral. Tentu dibutuhkan ‘tanah yang subur secara organik‘, lingkungan yang ‘genuin‘, agar menghasilkan buah pebisnis yang akan menebar rahmat bagi alam semesta.

In syaa Allaah.. dengan media tanam yang siap, para mentor di Kampung Juragan pun tak perlu upaya ekstra untuk menanamkan bibit ilmu dan kebaikan. Bahkan bisa jadi, para mentor akan belajar untuk ‘lebih organik’ dibanding sekarang.

Kemudian Ustad Zuhri menimpali,

“Benar Mas Jaya, Abuya (Sayyid Ahmad Al Maliki) juga mengatakan serupa. Kenapa para murid beliau diutamakan anak kyai, karena selain terjaga dari (makanan) yang haram, juga sejak dini dibekali dengan fondasi yang benar”.

Berbisnis dengan cara organik emang relatif lebih lama di awal, karena konsumen pun dasarnya sudah sering dipupuk dengan cara non organik. Sehingga perlu waktu untuk membuktikan bahwa apa yang kita tawarkan adalah apa yang akan mereka dapatkan, bahkan lebih baik. In syaa Allaah.. lebih langgeng dan berkah bagi semua.

Menjadi tugas kita untuk menjaga ‘kelestarian value organik‘ dimana pun kita berada. Mulai dari yang kecil, yaitu menjaga KETULUSAN kita dan lingkungan kita.

Just give, without expect to take..