MENUNGGU TELEPONMU

Sebuah cerita yang langka di ‘jaman logika’.

Sebelum murid pulang dari Makkah, Sang Guru berpesan kepadanya, “Tunggu telepon dariku setiap Jumat Malam”.

Tahun 80, sepulang Sang Murid mondok di Makkah, setiap Jumat ba’da isya’, murid menunggu gurunya menelepon dari Makkah.
Bukan sekadar menjalankan perintah, namun ada kerinduan yang mendalam bak menunggu kekasihnya.

 

Karena saat itu murid tak memiliki telepon, maka disepakati untuk numpang di kawan satu angkatan (di Makkah) yang terlebih dahulu memiliki pesantren, bernama Daarus Salaam, Tambak Madu, Surabaya, asuhan Ustad Muhyiddin Nur. Kala itu Murid masih menjadi ‘dai keliling’ di kampus-kampus di Surabaya dan Malang.

 

Di tahun 1991, impian murid untuk memiliki ‘markas’ dakwah mandiri, terwujud. Maka sejak saat itu, Murid menetap di Pondok Pesantren Nurul Haromain, Pujon (118 km dari Surabaya). Jarak tak menghalangi murid, yang kala itu sudah menjadi seorang kyai, untuk menepati janji kepada gurunya, yaitu menunggu telepon setiap Jumat malam di tempat yang sama.

 

Setiap Senin hingga Kamis, murid berada di Pujon dan Jum’at hingga minggu berada di Surabaya.

 

Sebelum peristiwa Lumpur Lapindo, Pujon – Surabaya hanya membutuhkan waktu 2 hingga 3 jam saja. Namun pasca Lumpur Lapindo dan padatnya kendaraan di sekitar Malang, sekali perjalanan membutuhkan waktu lebih dari 5 jam. Murid dengan ringan berkata, “Saya cuma sekali seminggu PP Surabaya Malang, sementara sopir atau banyak lagi orang yang setiap hari PP Surabaya Malang, atau bahkan dalam sehari lebih dari satu kali”. Sebagai informasi, jarak Malang ke Pujon sekitar 31,6 km.

 

Tak terasa kesetiaan murid dilalui hingga Sang Guru meninggal di tahun 2004. Selama 24 tahun murid istiqomah menunggu telepon setiap Jumat malam, tanpa mengeluh, tanpa alasan untuk absen.

 

Ternyata tak terhenti dengan kematian Sang Guru, murid meneruskan adabnya kepada penerus, yaitu anak dari Sang Guru. Hingga suatu saat anak dari Sang Guru berkata, “Sudah cukup khidmatmu dengan menunggu teleponku. Jika aku akan meneleponmu, akan kutelepon melalui hapemu”.

 

Sang Murid adalah K.H.M. Ihya Ulumiddin, lebih suka dipanggil Abi Ihya, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain, Pujon. Sang Guru adalah Muhadits Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki Al Hasani, akrab dengan panggilan ‘Abuya Al Maliki’.

 

Mungkin saat menyimak cerita saya, terbesit pertanyaan, “Kenapa Abi Ihya tidak ‘request’ pindah telepon, bahkan saat sudah ada hape?”.

 

Justru disitulah ‘adab’ yang tinggi dari seorang murid kepada guru tuntunannya. Abi Ihya tak ‘mempertanyakan’ perintah dari gurunya. Beliau mentaati sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan seorang murid kepada gurunya. Beliau juga meyakini bahwa perintah dari guru murobbinya memiliki makna tertentu.

 

Sebagian yang tak mengenal sosok Abuya, akan menganggap sebagai ‘taklid buta’. Namun yang mengenal nama harum tentang akhlaq serta keilmuan Abuya, begitu juga sosok Abi Ihya, maka akan mengagumi kisah diatas.

 

Tak heran saat ini Abi Ihya telah ‘mencetak’ ratusan kyai (pemimpin pondok pesantren) yang sebelumnya ‘nyantrik’ di Pujon. Abi Ihya juga mendapat amanah menjadi pimpinan Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah, yaitu organisasi alumni Abuya Al Maliki sedunia.

 

Suatu saat Abi Ihya ditanya, “Amalan apa yang Abi lakukan, sehingga jaringan Nurul Haromain bisa sebesar sekarang ini?”. Abi menjawab dengan ringan, “Barokahnya Abuya..”. Mungkin benar bahwa doa dan ridlonya seorang guru akan membawa kesuksesan pada muridnya.

 

Berpuluh tahun yang lalu Abi Ihya pernah menjelaskan kutipan ulama, “Istiqomah lebih baik dari seribu karomah (pemberian yang istimewa). Seseorang yang istiqomah, menjalankan suatu amalan dalam waktu sempit dan luang, akan dikagetkan ‘saat perhitungan’ nanti. Ternyata hal kecil yang ia lakukan secara istiqomah melebihi amalan besarnya yang sesekali.

 

Kisah diatas akan semakin jarang kita dengar. Logika dan kemajuan teknologi akan mengikis adab dalam berguru dan silaturahim. Mengaji via youtube dilalukan sembari buang air menjadi biasa. Mengucapkan bela sungkawa via medsos seolah cukup menggantikan layatan fisik.

 

Jangan sampai suatu saat nanti, anak kita memandikan jenazah kita secara virtual, mengafani virtual dan memakamkan virtual. Sementara jenazah kita membusuk di kasur.

Semoga kita dimampukan meneladani khidmat para ulama terdahulu.. aamiin..

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment