PERANG IDEOLOGI

 

Dalam suatu perdebadatan di grup WA, tentang ancaman Kapitalis Cina, keluar suatu pernyataan yang mengejutkan dari seorang tokoh ecommerce Indonesia. Dan pernyataan itu berulang:

 

“Kalau saya sudah menyatakan bahwa The Chinese have won! Sejak Xiaomi pertama diluncurkan. Sejak itu fokusnya adalah cara hidup berdpingan dengan Cina. Bukan mengalahkan karena mereka sudah menang.” (Sengaja copas aslinya, agar tetap otentik, dengan ‘typo’ yang ada).

 

Jika dalam benak kita ada ‘keyakinan’ serupa dengan diatas, maka kita perlu waspada, karena pernyataan itu mewakili kondisi bawah sadar kita.

 

Andaikan seratus tahun lalu para pejuang mengakui bahwa Belanda atau Jepang sudah jelas menang amunisi dalam peperangan dan kemudian menyerah, maka tak ada kemerdekaan di Indonesia. Mana mungkin bambu runcing mengalahkan panser?

 

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” (Pembukaan UUD 45)

 

Masih ingat cuplikan kalimat diatas? Kenapa dibuka dengan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”? Bukan “Atas perjuangan kita dengan bambu runcing?”. Artinya, ada kekuatan diluar kuasa/ikhtiar yang berkuasa atas kemerdekaan kita. Tugas kita adalah menjaga setiap proses perjuangan kita sesuai syariat, yang tentunya membawa keberkahan sekitar.

 

Tentu sejak jaman dahulu hingga sekarang, yang namanya kaum oportunis dan munafik selalu ada. Mereka memilih membantu dan berdagang dengan penjajah dibanding melawan. Beda jika itu merupakan ‘siasat’ untuk menyusup atau menunggangi. Bedanya adalah: semangat perjuangan memperebutkan kemerdekaan menjadi tujuan utama mereka. Bukan cari selamat atau untung sendiri.

 

Jika bukan karena IMAN kepada kekuasaan Allah dan mentaati perintah-Nya, maka falsafah hidup kita hanya didasari oleh untung dan rugi. Pola pikir dan pembuatan keputusan kita hanya terbatas penalaran saja.

 

Tugas kita adalah berjuang dengan ‘cara yg lurus’, mengembalikan ‘keberkahan’ dalam bisnis yang telah tercabik oleh falsafah ‘keserakahan’.

 

Saya ingat tahun lalu, seorang founder marketplace terbesar di Indonesia sempat tanya ke saya, saat saya posting tentang marketplace kapitalis. Dia bertanya, “Yang dimaksud Mas J marketplace kapitalis itu seperti apa?”.

 

Saya jawab, “Yang bertumbuh dengan cara non organik, sehingga merusak ekosistem yang ada. Serupa dengan bercocok tanam menggunakan pupuk dan pestisida non organik, guna menggenjot hasil yang lebih menguntungkan. Sementara itu, ekosistem sekitar menjadi rusak.”

 

Kalo kita ingin mengalahkan kapitalis dengan cara kapitalis, tentu tak akan menang. Selain kalah amunisi, juga akan jadi BUMERANG KERUSAKAN IDEOLOGI kedepannya.

 

Apakah bisa startup bisnis tetap merah putih, jika pendonornya Venture Capitalist? Bisa saja, jika VC-nya digoblokin. VC Indonesia bukan berarti nasionalis. VC luar, juga belum tentu gak syariah. Namun kalo bentuknya ‘VC’, kebanyakan ya kapitalis, alias mengutamakan untung dibanding berkah. Gini saja, coba sebutkan platform ecommerce besar digital Indonesia yang didanai oleh VC dan masih berpihak ke UKM? Silakan lihat peta Diginal Business dibawah. Manufer Alibaba and the genk tak tertebak. Gak beli perusahaannya, beli VC alias babonnya.

 

Kapitalis ya kapitalis, kawannya hanya duit dan setan.

 

Serupa dengan statemen seseorang, “Alibaba hanya menjadi pemegang saham minoritas di perusahaan kami”. Lha mbok pikir Mas Jack guoblok tenan tho, koq maunya invest 14,7 triliun cuma karena saham minoritas?. Tentu ada agenda lain yang lebih besar di belakang itu.

 

Balik ke IDEOLOGI

Justru saat ini penting untuk memahami lagi pembentuk unsur kapitalis itu apa saja dan apa pula lawannya. Sharing Economy harusnya menjadi solusi yang bagus, sayangnya dimotori oleh kapitalis lagi dan bukan murni sharing economy. Melainkan bentuk hybrid dari kapitalisme.

 

Dibutuhkan gerakan IDEALISME untuk kembali kepada VALUE LUHUR yang diajarkan oleh para founding father negara kita. Menghidupkan lagi nilai-nilai Pancasila yang telah hilang.

 

Suatu saat, seorang kawan bertanya, “Jika Mas J dihadapkan oleh suatu pilihan: Menerima investasi dari Kapitalis atau Menutup Yukbisnis?”.

Saya jawab, “Saya tutup..!”.

Kemudian dia mempertanyakan, “Sia sia donk perjuangan Mas J selama ini?”.

Saya jawab, “Siapa bilang sia-sia? In syaa Allaah.. VALUE yang kita tanamkan dalam gerakan kita, akan tetap hidup di bawah sadar mereka dan menjadi gerakan kebaikan”.

 

Sebaik-baiknya sekenario kita, masih ada sekenario Allah yang Maha Adil.

Jangan semua dinalarkan, namun perlu keimanan untuk meyakininya.

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

h

Attachment