PERUSAK EKOSISTEM

 

Apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan:
Sudah jarang tanya Mbah Google?
Lebih sering mencari review produk di Youtube?
Mencari info produk di IG atau Marketplace?

Data 2017: Pencarian via mesin pencari (mayoritas google tentunya) di angka 32%.
Data 2018: Pencarian via mesin pencari menurun menjadi 17%.
Sumber: Wearesocial 2017 & 2018.

Kenapa hal itu terjadi? Selain hadirnya youtube dan media sosial yang ‘lebih visual’ dan niche, juga dikarenakan ketidaknyamanan saat ‘googling’. Itu menurut pengamatan saya. Kenapa? Karena hampir setiap pencarian, berujung konten-konten serupa di halaman 1. Buah tangan dari tukang ‘ngakalin’ SEO. Meski sekarang google telah memperbaiki algoritmanya, namun saya sudah mengubah perilaku ‘searching’ saya ke media lainnya, yaitu media sosial dan youtube. Apakah Anda begitu juga?

Hal serupa juga terjadi di marketplace. Karena ‘akal-akalan’ para member yang pengin hasil instan, mereka menggunakan aplikasi auto posting yang membuat barang dan foto yang sama tampil berderetan di halaman 1. Alhasil membuat pelanggan mulai ‘eneg’ dengan akurasi pencarian, terutama di marketplace.

Sifat ngakali seperti ini akan merugikan kepentingan bersama, terutama yang berniaga dengan kejujuran.

Contoh di Dunia Offline..

Pernah nonton acara TV: Investigasi? Misalnya kisah ‘kriminal’ penjual pisang goreng yang menggunakan plastik untuk membuat lebih ‘kriuk’ hasilnya? Atau penjual makanan yang menggunakan bahan berbahaya lain? Apa dampaknya bagi kita sebagai penonton? Paranoid kan?!

Saat melihat penjual makanan di pinggir jalan, bawaannya jadi curiga: jangan ahh, bisa jadi pakai borak, formalin, goreng pakai plastik, ayam tiren. Siapa yang dirugikan? Pedagang jujur yang kena dampaknya..!

Serupa dengan manipulasi di dunia online. Apapun bentuknya, manipulasi tak disukai konsumen dan PASTI merusak ekosistem yang ada. Apalagi contohnya? Buanyak nih:
Auto content generator
Duplikasi posting
Spamming
Berita hoax, politik, sara, sebagai umpan.
Like, share, comment yang ‘dikondisikan’.

“Lho, like share comment dari akun asli kan bagus Mas J?”. Iyaa, kalau yang komentar bukan karena ngejar ‘iming-iming’. Kalau demi mencapai rating engagement yang tinggi, trus SHARE dan KOMENTAR dilombakan, hal ini sama saja MANIPULASI..! Lebih jahat dari SPAMMING, karena merusak tanpa merasa dirusak. #Value

Kemudian apa dampaknya? Gak peduli postingan kualitas atau kagak, dilabrak asal share. Kolom komentar berisi komentar asal syarat seperti orang mencret >> Pret Pret Pret. Serupa dengan tulisan saya sebelumnya tentang “Manipulasi Rating”. Jika manipulasi dilakukan berjamaah dan menjadi budaya, maka kepercayaan akan menurun. Dan media sosial tersebut akan ditinggalkan..!!

“Tapi Mas J, kan ujungnya kita menghancurkan para kapitalis..?!”.
Iyaa bener menghancurkan kapitalis sekaligus menghancurkan value konco-koncomu juga. Yang tadinya TULUS jadi BULUS..!
Lagian, beneran tujuanmu menghancurkan kapitalis atau karaktermu yang OPORTUNIS MANIPULATIF?

Itulah yang disebut petumbuhan non organik. Serupa dengan tanah yang diberi pupuk non organik, akan menjadi rakus dan semakin rakus. Ditambah dengan pestisida kimia, bukan hanya hama yang mati, yang makan juga kena penyakit. Karena ekosistem sekitarnya dirusak, cacing, mikroba dan mungkin juga hama yang dibutuhkan untuk makhluk lain akan binasa juga, demi hasil karbitan.

“Menjadi kaya itu mudah, menjadi berkah yang tak mudah.”

Gak usah di-share..! Gak ngejar rating..!

Attachment