SOLUSI LOGISTIK UKM

 

“Mas J, usahaku kan di Pekanbaru, sedangkan aku ambil barang kebanyakan dari Bandung, terus orderan kebanyakan dari Jabodetabek. Tiap kali calon pembeli lihat alamatku di web, dari Pekanbaru, mereka langsung nyeletuk, “Wah pasti mahal ongkirnya donk..”. Gak efisien juga sih kalau aku harus kirim barang dari Bandung (produsen) ke Pekanbaru (tempat usaha), terus kirim balik lagi ke Jakarta (pelanggan). Gimana solusinya?”. Tanya Putri, 4 tahun lalu.

Jawab saya, “Coba cari kawan atau saudara yang ‘ngekos’ di Jakarta. Sewa aja kamar kos dia dan jasa packing kalau ada orderan.”

 

Kasus Putri mungkin menjadi kasus masal bagi kawan-kawan yang tinggal diluar Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya di Jawa. Padahal 2 komponen terpenting dari perdagangan online adalah Logistik dan Pembayaran. Logistik, bukan hanya pengiriman, tapi juga pergudangan dan pembungkusan (packing).

 

Solusi Ideal adalah menyediakan sarana (tempat) pergudangan yang terjangkau untuk UKM, berikut penanganan packing dan pengiriman. Bisnis modelnya bisa seperti Air BnB (sharing economy) atau dikelola oleh suatu perusahaan pengiriman, bisa juga kombinasi keduanya.

 

Seharusnya hal ini menjadi peluang (yang akan) besar bagi perusahaan jasa pengiriman, seperti POS, JNE, Pandu, dan lainnya. Sengaja saya sebut yang lokal, karena nasionalisme saya tak menginginkan perusahaan (kapitalis) asing bercokol di Indonesia.

 

Dari 3 perusahaan yang saya sebutkan, dua di antaranya sudah saya temui dan memberikan ide ini kepada mereka. Sayangnya saya tak berjumpa pucuk pimpinan, sehingga hanya menjadi obrolan santai yang berlalu begitu saja. Sedangkan dengan POS, nyangkut di sekretaris direktur, karena “aku bukan siapa-siapa”. #JrengJreeng

 

Andaikan POS Indonesia sebagai BUMN ‘ngeh’ dengan kebutuhan pebisnis online yang terus meroket populasinya, maka hal ini menjadi ‘pengunci order’ bagi POS kedepan. Jika penyimpanan dan pengemasan di dalam, masa’ sih pengirimannya mau keluar? “Bring your customer in”, sekaligus memanfaatkan aset/area kosong untuk ujicoba. Daripada fokus membantu raksasa Alibaba masuk ke Indonesia, lebih mulia membesarkan UKM kita.

 

Tarifnya?

Bisa dihitung berdasar meter kubik perbulan (sewa) atau per pengiriman (dan pengemasan) dengan syarat minimum pengiriman tertentu.

Ide ini pernah menjadi usulan saya saat masih bekerja di bagian pembelian spare part di Batam (1998). Dimana sering terjadi kekosongan stok spare part, sehingga saat mesin rusak, akan menghentikan produksi. Di sisi lain, perusahaan tak mau menyimpan stok lebih karena akan menjadi ‘inventory cost’. Jika pengiriman spare part dari Singapore ke Batam setidaknya membutuhkan waktu 1 hari (paket kilat), maka biaya kerugian produksi akan besar. Solusinya adalah menyediakan jasa penyimpanan ‘buffer stock’ dan pengiriman di kota yang sama.

 

Cepat atau lambat, bisnis ‘Solusi Logistik’ ini akan marak di Indonesia. Apalagi meroketnya angka belanja online akan mengurangi kebutuhan akan toko fisik. Yang ada adalah bisnis (online) rumahan yang menyewa jasa pergudangan sebagai stokis, berikut penanganan pengemasan dan pengiriman. Praktis dan Ramping.

 

Akan datang suatu masa, merek-merek ternama, dimiliki dan dikendalikan dari rumah. Tak punya pabrik, tak punya gudang, tak melakukan pengemasan, namun omzetnya puluhan miliar perbulan. Soon…

 

 

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment