SPORTIVITAS BULE YANG PATUT DITIRU

184549_927851047293024_4257148695187852471_n

2 kali nonton filmnya Steve Jobs dengan versi yang berbeda, dapat pelajaran banyak. Kedua film ini gak akan saya tonton kalau tidak kisah nyata, karena pembuatan skenario filmnya sama-sama ‘lumayan buruk’. Alur skenarionya tak seruntun Social Network-nya Mark Zukeberg. Salah satu pelajaran yang saya ambil dari film tersebut adalah sportifitas Steve Jobs dan sahabatnya Steve Wozniak (co-founder Apple). Jobs adalah perancang strategi dan eksekutor, namun Jobs bukanlah seorang programmer, tak paham detail teknis. Sedangkan Woz adalah seorang inventor dan teknisi yang super handal, yang melengkapi kekurangan Jobs.

 

Sikap Jobs yang perfeksionis, tak sabaran dan temperamen, membuat siapapun orang di dekatnya kena ‘semprot’. Hingga suatu saat di depan umum Woz mengatakan, “Sekarang, jika orang bertanya siapa Jobs, maka aku akan menjawab, Jobs adalah asshole”. Padahal Woz adalah orang yang terhitung sabar dengan polah Jobs, masih bisa marah juga. Setelah jeda waktu mereka berpisah, mungkin mereka sama-sama mengenang, berfikir dengan jernih dan melepas ego. Jobs merasa kehilangan sosok handal seperti Woz. Demikian juga Woz, kehilangan sosok visioner, pengusaha ulet dan lokomotif seperti Jobs. Meski Woz sudah tak bekerja di Apple lagi, hampir setiap peluncuran produk Apple, terutama oleh Jobs, dia mendatanginya. Demikian juga Jobs yang sering merindukan Woz.

 

Sejenak saya mengenang kisah saya dengan sahabat sekaligus salesman pertama saya, Dwifung Wirahadi Saputra. Sosok yang pernah saya tuliskan “Mantan Satpam yang Beromzet 5 Miliar perbulan”. Ada kisah keributan yang belum saya ungkap tentang saya dan dia, yang membuat kita sempat ‘renggang’, pasca keluarnya dia dari perusahaan saya (2005). Hingga bulan Maret 2006, saya mendatangi rumahnya untuk meminta maaf dan kita berpelukan. Saat itu bahasa tubuh dia (yang terbaca oleh saya) masih defensif. Meski ego saya masih mengatakan saya benar dan dia salah, namun di hati kecil saya tak bisa berbohong. Sebetulnya saya lemah dalam kepemimpinan yang membuat kita berseteru. Saya terlalu emosional dan tidak menjadi teladan sebagai seorang pemimipin yang bijak.

 

Kurang lebih 6 bulan kemudian, kita berjumpa di seminar TDW di Notovel Hotel Batam, saya tarik tangannya untuk duduk di samping saya, meski masih agak kaku karena hubungan yang renggang. Usai seminar, saat saya mau pulang, dia menarik tangan saya dan berkata, “Mas, maafin aku yaa..”. Dan saya pun menjawab, “Sama-sama Mas..”. Saat itu saya melihat kesungguhan dia meminta maaf. Di hari Idul Adha 2006, sekitar jam 6 pagi, sebelum sholat Ied, dia kembali menelepon saya, “Mas, aku minta maaf. Aku berterimakasih atas apa yang mas ajarkan ke aku. Kalau gak karena mas Jaya, aku gak akan sampai disini.”. Dan air mata saya pun menetes. Kita berharuan di telepon. Kemudian saya mengatakan, “Mas, aku yang salah, gak berlaku adil ke Mas Ipung (nama panggilan) saat itu. Aku terlalu emosional, maafin aku yaa..”.

 

Saat ini kita kembali menjadi sahabat. Dia adalah salah satu tim terbaik yang pernah saya miliki. Seorang yang membereskan pekerjaannya, tanpa tapi, tanpa nanti. Setiap kabar prestasi dia, adalah kebanggaan bagi saya. Kita bisa berbohong kepada orang lain, tapi hati kecil kita tak dapat berbohong. Allah menitipkan suara hati (qalbu) kepada kita untuk membisikkan kebenaran, namun seringkali ego dan kesombongan kita membungkamnya dengan pembenaran.

Jagalah hati.

 

Foto: Dwifung Tasya Rasya Vasya, paling kiri memegang helm.

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment