SUKSES DI PERMUKAAN

12540813_930654290346033_3748061777095983190_n

Apa sih deskripsi atau skala sukses itu menurut Anda?
Kenapa orang bisa berkata, “Dia orang sukses, aku ingin seperti dia”.

 

Apakah karena ia punya usaha yang cabang atau franchise-nya sudah ratusan outlet, sering nongol di TV, dapat penghargaan dimana-mana. Sukseskah? Atau sekadar melihat ‘kepemilikan fisik’ seperti rumah, mobil, jalan-jalan di luar negeri, foto penghasilan ratusan juta perbulan, kemudian Anda menyimpulkan bahwa dialah contoh orang sukses? Jika itu standarisasi sukses menurut Anda, maka pertanyaan saya berikutnya adalah, “Bagaimana dengan seorang buruh bangunan, yang saat pulang rumah dengan pakaian berkeringat, bau tak sedap, membawa tahu petis untuk keluarganya dan kemudian anak-anaknya bergembira menyambut sang ‘pahlawan’ pulang. Apakah dia tidak disebut sukses?”.

 

Bagaimana dengan…..

Guru miskin di pedesaan yang mengajar sepenuh hati, sukseskah mereka?
Kyai pesantren yang hidupnya pas-pasan, namun santrinya ribuan. Tak bisa disebut sukses?
Ibumu yang hanya ibu rumah tangga. Gak sukses juga?
Karyawan yang loyal berjuang bersama Anda. Tumbal sukses Anda kah?

 

Mungkin Anda tak tahu, di balik kisah sukses si pengusaha franchise tersebut, banyak ‘tumbal-tumbal’ franchisee yang dirugikan, banyak janji-janji yang diingkari (kisah nyata). Mungkin Anda tak tahu, dibalik kepemilikan mobil dan rumah mewah, dia harus ‘menyikut’ rekan bisnisnya, putusnya silaturahim dengan saudaranya, demi mengejar ambisi kata ‘sukses’ (kisah nyata). Kisah-kisah seperti itu menjadi kelaziman dimana-mana. Karena standarisasi kata ‘sukses’ berlandaskan materi semata.

 

Jika pencapaian materi menjadi tolak ukur kesuksesan, maka keserakahan menjadi tenaga pendorongnya dan penipuan/kebohongan adalah akselerasinya. Kapitalis adalah sistemnya. “Aku gak merasa menipu koq”. Lha iya, perasaanmu udah jebol jee. Tahunya “bagaimana aku harus sukses ?”, tak peduli korban-korban di sekitarmu. “Aku emang bohong ‘kecil’, tapi aku tak berniat merugikan mereka. Ini kan strategi pemasaran”. Itulah awal dari pergeseran value. Maling besar juga dimulai dari maling kecil. Para Koruptor juga awalnya bukan peminta, tapi ‘penerima’ dari atasan. Hingga perlahan materi memanjakan mereka. Uenak tenan…

 

Sebelum terlambat, kalibrasi standar sukses Anda.
Tentukan rambu-rambu value yang tak boleh dilanggar.
Jaga nurani, jangan ditoleransi dan membuat pembenaran.

 

Yang halal, belum tentu berkah.
Yang gak halal, sudah jelas gak berkah. ‪#‎think‬

 

Jika standar sukses berubah, maka Anda akan melihat banyak orang sukses di sekitar Anda dan mungkin pada diri Anda sendiri saat ini. Seperti Om Bob mengatakan, “Sukses bagiku, bisa makan sepiring nasi hari ini”. Jangan biarkan penilaian orang lain membentuk standar sukses Anda, karena itu hanyalah sukses menjadi tontonan orang lain.

 

Sumbergambar: www.hollywoodreporter.com

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment