TERIMAKASIH BOS

12289766_914826365262159_4872709334368556314_n

“Hasil sangat bergantung pada niat awal”, saya percaya itu. Apa yang kita kejar, ya itu yang kita dapatkan, meski durasinya berbeda.

Saat diterima di salah satu anak perusahaan Astra, yaitu PT Astra Microtronics Technology – Batam, niat saya yang kuat hanya 1, yaitu belajar. Karena niatnya belajar, saat diwawancara gaji, saya katakan, “Saya serahkan kepada perusahaan untuk memutuskan. Saya datang kemari untuk belajar Pak, kalau sudah dapat ilmu masih digaji, ya saya syukuri”. Alhamdulillaah, gaji pertama 1,1 juta dipotong pajak menjadi 973 ribu, hehe. Kurs USD saat itu sekitar 2000 rupiah.

 

Ayah saya berpesan, “Janganlah bekerja buat atasanmu atau perusahaanmu, tapi kerjalah untuk kemajuan (skill) dirimu dan membangun kredibilitasmu”.

 

Saya teringat, setiap kali makan siang dan kumpul teman se-departemen, kata-kata yang paling sering saya dengar adalah “Bapakmu itu…”. Yang dimaksud bapak disitu bukanlah bapak kandung saya, tapi bos (manajer) kami. Oh ya, posisi saya saat itu adalah ‘Junior Technical Buyer’. Salah satu contohnya seperti ini, “Jay, lihat tuh Bapakmu, dia kerjaannya potong kuku, gaji 7000 US dollar, enak kan?”. Saya balik menjawab, “Bagus donk, artinya aku bisa melihat masa depanku nanti seperti itu, digaji gedhe, kerjaannya potong kuku.

 

Masalahnya, gimana cara sampe kesana? Dan dulu dia juga pernah di posisi kita”. Saya berfikir, perusahaan sebesar Astra dengan manajemen terbaik di Indonesia, bahkan Asia, masa’ sih kecolongan punya manajer yang gak kompeten? Pasti ada ilmu yang bisa saya dapatkan dari atasan saya tersebut. Toh dibalik kerjaan yang ringan (secara fisik), tersembunyi tanggung jawab yang besar.

 

Apa yang saya lakukan? Saat kawan-kawan menjauh dengan atasan saya, justru saya mendekat dan saya ingin belajar dengannya. Bos saya terkenal dengan sebutan ‘Mr Perfect’, super teliti dan kaku. Alhasil, benar dugaan saya, ternyata atasan saya punya ilmu negosiasi tingkat dewa. Dari beliau saya belajar membaca ‘hidden message’ dalam negosiasi, cara ‘menyudutkan’ lawan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, dan ilmu-ilmu kritis lainnya.

 

Sering kawan-kawan nyinyir, “Jaya nih, anaknya babe…”. Bagi saya, terserah kamu mau ngomong apa, yang penting aku gak merugikanmu. Seperti sering saya ceritakan dalam seminar, bahwa selama 1 tahun 4 bulan bekerja disana, hampir 1 tahun full saya nyaris tak pernah libur. Saya masuk kerja untuk belajar senin hingga minggu. Tak mengenal pacaran, tak mengenal hiburan berlebih. Baru setelah saya merasa ilmu didalam cukup, 4 bulan terakhir saya gunakan untuk orientasi lapangan (mendata supplier).

 

Meski hanya sebentar, saya berhutang budi banyak kepada Astra. Keilmuan yang saya dapatkan sejak awal masuk (basic training) hingga belajar budaya perusahaan yang menumbuhkan karyawan, bagi saya tak ternilai. Meski ‘selalu’ ada ketidakpuasan sebagai seorang karyawan, tapi kesan saya terhadap Astra dan atasan saya hanyalah bersyukur bisa belajar disana. Terimakasih Bos, untuk segala pelajaran. Tanpamu, tak mungkin aku sampai disini..

 

Jika Anda masih bekerja, maka bekerjalah untuk menumbuhkan diri Anda, bukan untuk bos Anda. Jangan hitungan waktu dan uang. Anggap saja sudah dikasih ilmu, masih dibayar. Enak tho..

 

Foto: di belakang meja kerja saya (kiri), AMT 1997

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment