UJUNG-UJUNGNYA BISNIS ITU….

13654318_1041451855932942_570831994922116247_n

Ilmu bisnis bertebaran dimana-mana saat ini. Saking banyaknya, malah kebingungan mana yang mau diikuti. Masalah dalam bisnis juga berjenjang sesuai dengan fasenya. Saat akan atau baru mulai, motivasi yang naik turun dan ketidak fokusan menjadi masalah. Bukan modal ya. Kalo saat awal usaha sudah bilang ‘modal’, bisa dipastikan karena ‘cacat mentalnya’.

 

Modal menjadi masalah (beneran) saat akan mengembangkan usaha (fase kedua). Saat dimana permintaan pasar melebihi kemampuan (modal) produksi. Saat modal sudah didapat, karyawan mulai direkrut, nah mulai fase berikutnya, yaitu memimpin tim. Anak muda biasanya lemah dalam hal ini, karena ambisius dan ego yang besar. Alhasil, berantakanlah produksi atau penanganan bisnis, kualitas/servis menurun, pelanggan kabur. Bangkrut deh, hehehe. Siapa yang mengalami? Cung..!

 

Fase ini adalah fase terkritis. Hal ini juga dibahas di kitab bisnis ternama “E-Myth, why most small business don’t work and what to do about it”, yaitu transformasi teknisi – manajer – entrepreneur. Kalau dalam bahasa saya, “Ujung-ujungnya bisnis ada di leadership..”. Bagaimana seorang pendiri atau pemimpin puncak dalam organisasi memimpin timnya dengan harmonis.

 

NYARIS SEMUA BERPOLA

Jika seorang pengusaha bolak balik mengeluhkan perilaku karyawannya.
Jika angka ‘turn over’ di perusahaan tinggi.
Jika mayoritas karyawan tak loyal atau bekerja benar, saat dalam pengawasan ketat saja.
Jika pengusaha ‘merasa’ dikhianati, meski kesejahteraan karyawan sudah terbaik.

Maka itulah indikator atau tanda-tanda leadership-nya lemah. Sayang, mereka sering ‘kurang rendah hati’ untuk mengakui kesalahan dalam kepemimpinannya. Sehingga saat tim berganti, mereka tetap mengulangi pola gagal yang sama.
Berujung dengan keluhan lagi…

 

CIRI-CIRI PEMIMPIN

Dari pengamatan saya terhadap para pemimpim yang (nyaris) ideal, setidaknya memiliki ciri-ciri:

1.Seimbang antara kasih sayang dengan ketegasan.

Tahu saatnya ‘menampar’ dan ‘membelai’. Jika hanya membelai, tanpa ketegasan saat terjadi kesalahan fatal, maka akan mengembangbiakkan virus dalam organisasi. Jika tegas (mendekati sadis), tanpa belaian, akan menimbulkan situasi horor dan kerja ‘kucing-kucingan’; tunduk di depan, bandel di belakang.

2.Fokus ke solusi bukan kambing hitam.

Jika terjadi masalah, lebih terfokus mencari solusi dibanding menyalahkan berlebih. Marah saat menemukan kesalahan itu manusiawi, tapi tak berlarut dan langsung mencari solusinya. Kesalahan yang terjadi dalam perusahaan, sering bisa dijadikan sebagai pembenahan sistem (kaizen).

3.Sportif

Marah itu manusiawi, asal gak kebablasan dan mau mengakui kesalahan. Seorang Umar bin Khaththab yang setan pun takut saat dia marah, mau segera mengakui kesalahan dan meralat fatwanya (kisah fatwa tentang mahar). Pemimpin juga manusia..

4.Pemurah dan tulus.

Anda boleh memberi gaji yang tinggi, insentif yang wow, namun tanpa ketulusan, tak akan membuat karyawan loyal. Jangan maknai loyalitas sebagai pengabdian seumur hidup. Yang disebut tim loyal adalah sesuai perkataan/perbuatan di depan dan belakang kita, bekerja tanpa hitungan, hingga membela kita saat kita tak ada sekalipun.

 

Loyal adalah buah dari bibit perlakuan Anda ke tim. Jika menanamnya dengan hati, buahnya akan manis alami, bukan ‘manis buatan’. Jika menanamnya dengan ‘modus berharap balik’, maka saat tak berbalas akan menimbulkan kekecewaan. Kekecewaan menjadi energi negatif yang ditangkap oleh tim kita. “Ternyata bos kita ada maunya..”. Jika kita perhitungan, tim pun perhitungan. Ikatan emosional pun berkurang, bahkan negatif.

5.Mengembangkan

Pemimpin besar paham, seorang tim yang bagus dan handal, bukanlah seorang ‘anjing penurut’ (sengaja kasar), tapi seorang manusia yang ingin maju. Maka tugas pemimpin untuk mengembangkan mereka. Dan bila saatnya tiba, besar hatilah untuk melepas mereka bertumbuh di luar. Biarkan mereka menjadi pemimpin lainnya.

Tugas kita adalah menumbuhkan mereka, namun bukan hak kita memetik buahnya (secara langsung). ‪#‎renungkan‬

6.Besar Hati

Jika hatinya kecil, maka akan gampang tersakiti. Jika hatinya besar atau lapang, akan mudah memaafkan, bahkan tetap welas asih meski dikhianati. Para pemimpin bijak yang kita kenal, seperti Bung Karno, Nelson Mandela, Mother Teresa, Mahatma Gandhi, tentu saja para nabi, sahabat dan wali, berlimpah kasih sayangnya. Jangankan sakit hati, justru cenderung merasa kasihan, karena menganggap umat sebagai anak-anaknya yang sedang tersesat.

Jika welas asihnya tinggi, keserakahan akan teredam, pemurah jadi amalan, ketulusan timbul, energi positif terpancar. Bukan hanya loyalitas sebagai buahnya, namun akan menarik rejeki dari arah yang tak disangka-sangka. ‪#‎zero‬

 

Catatan: Inspirasi film kepemimpinan terbaik yang pernah saya tonton adalah serial OMAR (Umar bin Khatthab).

———————————————————————————-
H-35 jelang Kopdar Akbar Yukbisnis 2016, Sanur Beach BALI.
Info lengkap >> KopdarAkbar.yukbisnis.com

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment