RE – PROFILING (1)

(Sambungan Artikel Profiling)

reprofiling 1

Jika Profiling berarti menentukan target pasar di depan, baru mulai usaha, maka Re-Profiling berarti Reverse Profiling, mem-profilkan secara terbalik. Misalnya, Anda sudah telanjur membuka usaha rumah makan dan ‘kecelakaan’ berhasil ramai. Ternyata saat Anda membuka cabang, koq sepi, lalat pun takut. Dimana kesalahannya? Atau ingin menduplikasi kesuksesan bisnis pertama, bagaimana formulanya?

 

Bisnis itu ‘ilmu’ bukan ‘klenik’. Sukses itu berpola. Bagaimana caranya mengulang pola jika kita tak menemukan blue print polanya?! Untuk mendapatkan pola, Anda harus memiliki data atau rekam jejak. Dari data pelanggan yang datang, cari kesamaan profil-nya. Jangan pikirkan yang minoritas, tapi cari profil yang mayoritas.

 

Re-Profiling yang standar, bisa menggunakan acuan teori segmentasi pasar. Simak dahulu, saya jelaskan aplikasinya kemudian.

Siapa Mereka? (demografis)
• Laki atau Perempuan; ingat: siapa mayoritas (80%), kecuali beda tipis.
• Usia; bisa dilihat dari seragam atau penampilan.
• Pendidikan; smu, mahasiswa, sarjana.
• Agama; kalau muslim bisa dilihat dari penampilan.
• Penghasilan; jangan tanya gajinya brapa.

 

Darimana mereka berasal? (geografis)
• Dari kantor, kampus, perumahan mana?
• Tipe brapa perumahannya?
• Kecamatan, kabupaten, ibukota provinsi?

 

Kapan dan seberapa sering mereka membeli? (behaviour)
• Saat pulang kerja/kuliah atau berangkat kerja/kuliah?
• Kenapa mereka membeli?
• Frekuensi pembelian; berapa kali mereka membeli dalam sebulan.

 

Apa kesamaan interest mereka? (psikografis)
• Bisa dilihat dari akun socmed yang mereka follow.
Lifestyle; tak perlu ditanyakan, lihat saja jenis kendaraannya, gadget, tas dan asesoris lainnya.
Personality; labil, bijak, perfeksionis, tenang, cerewet.

 

Bagaimana cara penggunaannya?

Dalam kasus rumah makan, untuk menentukan lokasi yang tepat untuk membangun usaha. Data yang diperlukan adalah:
1. Siapa kebanyakan yang makan di tempat Anda?
2. Darimana mereka berasal? Perkantoran, kampus, perumahan? Tipe?
3. Kebanyakan ramainya jam brapa saja?
4. Mereka beli saat pulang atau berangkat?

 

Misalnya, data (mayoritas pelanggan) yang didapat:

• 70% wanita, 30 % laki
• usia 17 – 25 tahun
• kuliah
• naik motor matic
• ramainya sore hari
• saat pulang dari kampus

 

Nah, dari situ Anda bisa menentukan lokasi yang ideal untuk membuka cabang adalah:

• harus dekat kampus
• yang kebanyakan wanita
• menggunakan motor matic
• berada di sisi kiri jalan menuju pulang (dari kampus ke rumah kos) atau 2 arah yang tak terhalang boulevard/pembatas jalan.

Jika Anda salah menentukan arah jalan dan ada pembatas, maka menambah barrier bagi konsumen.

 

Survei diatas belum tentu akurat. Bisa jadi saat cabang pertama, ternyata kampus pelanggan Anda mayoritas wanita. Jadi wajar jika prosentasi lelakinya hanya 30%. Bukan berarti laki-laki tak suka. Saran saya untuk menguji lokasi yang tepat adalah, membuka stan ujicoba (non permanen) atau mobile di sekitar lokasi sasaran. Jika tak ramai, tinggal pindah saja. Jika ramai, cari tempat yang disewakan.

 

Silakan dikunyah-kunyah dahulu…

 

Bersambung –> RE – PROFILING (2)

 

Lokasi: Mochi Maco, Malang, milik Rafli Egy Wijaya, alumni YEA.

Komentar

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment