MENGHITUNG ANGKA CUKUP

Foto dari: Rizky Ahmad Fadilah

 

Bagaimana sih caranya menghitung angka cukup itu?

[Kisah Nyata] Saat ditanya angka cukup untuk gaji mereka, seorang karyawan memerinci seperti ini:

1. Uang saku ke orang tua

2.Tabungan pernikahan

3. Cicilan rumah

4. Cicilan kendaraan

5. Cicilan hutang

6. Cicilan tabungan haji

Kalo semuanya dirinci seperti itu, maka akan semakin sedikit yang terpenuhi angka cukupnya. Jika Angka Cukup tak terpenuhi, maka kata syukur pun tak akan keluar. Jika kata syukur tak keluar, jangan berharap Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

Lalu seharusnya seberapa Angka Cukup itu?

Tergantung dari perhitungan versi mana. Jika mengacu kepada Standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) berdasar Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 13 tahun 2012, menurut saya, sudah lebih dari sekadar Sandang – Pangan – Papan. Ada 60 item yang mewakili 7 poin standar ‘layak’, yaitu:

Makanan Minuman (11 items).

1. Sandang (13 items).

2. Perumahan (26 items).

3. Pendidikan (2 item).

4. Kesehatan (5 items).

5. Transportasi (1 item).

6. Rekreasi dan Tabungan (2 item).

Bahkan saat saya membaca poin Sandang:
Celana panjang / rok / pakaian muslim – 6 potong pertahun.
Kemeja lengan pendek / blouse – 6 potong pertahun
Sarung/kain panjang – 1 potong pertahun.

Saya langsung nyengir, ternyata kehidupan saya masih ‘dibawah layak’, karena saya:
Rata-rata dalam setahun membeli 3 celana, itu pun kebutuhan roadshow.
Kemeja tak pernah beli lagi dalam 3 tahun terakhir (bahkan lebih).
Dalam 10 – 15 tahun terakhir, saya hanya punya 3 sarung, padahal selalu dipakai sholat.

Harusnya standar KHL yang menjadi acuan penetapan UMR di Indonesia sudah mewakili Angka ‘Lebih dari Cukup’.

Terus kenapa belum ‘merasa’ cukup?

Karena seiring pendapatan bertambah, bertambah pula keinginan.
Keseharian naik bis, pengin punya motor.
Sepatu merek Bata, pengin ganti Adidas.
TV 21”, pengin upgrade 32”.

Kadang, penghasilan belum naik, sudah dibeli dengan cicilan. Alhasil kebutuhan terbesar adalah bayar hutang cicilan. Saya paham hal itu, karena saya juga pernah mengalaminya, selalu ingin lebih. Salahkah?

Tidak berani menyalahkan, hanya mensyaratkan: asalkan masih di batas kemampuan (tidak besar pasak dari tiang), tidak mubazir dan bukan untuk menunjukkan ‘kasta’ kita. Membeli karena punya alasan kualitas dan fungsi, bukan karena gengsi. Hal cicilan, saya hanya setuju dalam konteks menyicil rumah, sisanya tidak. Itu pun tidak mutlak harus memiliki rumah sendiri, yang penting layak ditinggali. Saat menikah, saya juga belum memiliki rumah. Istri saya berkata, “Gak papa, kita nge-kos juga boleh, yang penting bersama”. Co cwiitt…

“Cukup itu berarti yang pokok aja ya Mas? Sandang, pangan, papan?”.

SPP, dalam catatan (rumah) tak harus memiliki. Yang penting bisa buat tinggal. Syarat sandang adalah untuk menutup aurat. Jika penghasilan berlebih, beli yang bahannya nyaman, bukan karena gengsi. Makanlah karena bergizi dan rasa, bukan karena kasta.

Referensi artikel “Gengsimu Disini dan Kasta Terselubung..”, silakan baca.

“Apakah harus beli pakaian sebulan sekali?”
Lha, saya aja dulu saat sekolah, beli baju setahun sekali. Sisanya dapat warisan baju kakak.

“Kalo memberi orang tua yang hidupnya bergantung kepada kita bagaimana?”
Nah, memberi dan menyenangkan orang tua itu sangat diutamakan, namun tetap dalam batasan kemampuan kita juga. Orang tua juga menginginkan rejeki yang halal dan berkah dari kita.

“Mengejar kata cukup itu, sesulit mengejar kata syukur.”

Bagaimana dengan biaya pendidikan?

Alasan ini yang paling banyak jadi alibi orang tua. Haruslah balik ke materi ‘Makna Sukses’ lagi, agar mengerti seperti apa seharusnya pendidikan anak kita. Saya sih manut dengan pendapat, bahwa pendidikan yang wajib adalah:
Adab/akhlaq; baik kepada Allah, Rasul, orang tua, guru, dan sesama.
Hukum agama; mengetahui halal haramnya sesuatu perbuatan.

Sisanya bukan wajib, namun masuk kategori ‘boleh’ (mubah). Anak saya hanya sekolah formal sampai SD, setelah itu ikut komunitas home schooling. Tetap sekolah seminggu 2 kali, @ 3 jam per pertemuan. Uang sekolah 700 ribu rupiah perbulan. Kalau (pesantren) Kampung Juragan jadi, maka anak saya akan menjadi siswa pertama disana. Belajar tak harus di bangku sekolah. Sekolah belum tentu belajar. Dapatkan esensinya, bukan sekadar prestisenya.

Biasanya langsung ditimpali, “Sosialisasi bagaimana? Nanti jadi ‘kuper’ donk..!”.
Saya jawab, “Lebih baik anak saya kuper, daripada saper”. Silakan datang dan jumpa anak saya, nilai sendiri apakah mereka kuper atau gak. Justru orang tua yang masih memikirkan pentingnya ‘ijazah’ dibanding ilmu, adalah orang tua predator, yang menyiksa anaknya sendiri. Perlukah internasional school? Saya prefer anak saya masuk pesantren, belajar bahasa arab agar bisa membaca kitab, daripada bahasa Inggris.

“Anak saya ingin jadi dokter. Biaya masuknya saja diatas 200 juta. Bagaimana donk..?”
Yaa kalau mampu, silakan. Kalau gak mampu, tapi masih punya cita-cita mulia untuk mengobati kaum dhuafa, bisa belajar pengobatan alternatif. Yang sering terjadi, profesi anak sebagai dokter menjadi kebanggaan semu orang tua, sehingga menghilangkan esensi tujuan mulia seorang dokter. Hal ini didukung sistem kapitalis yang menjadikan rumah sakit sebagai bisnis yang menggiurkan.

Tak sadar kita sudah dikhotomi ‘Makna Sukses’ yang sesat, karena kiblatnya ke ‘barat’. Coba serong sedikit kekanan, biar ketemu Mekkah.

“Bicara Mekkah nih… saya punya cita-cita pengin naik haji..”
Bagus tuh, cita-cita wajib bagi seorang muslim. Hukum haji adalah wajib bagi ‘yang mampu’. Mari berdoa agar ‘dimampukan’. Jangan sampai ‘naik haji’ dijadikan alasan untuk menjadikan diri kita tidak ‘qona’ah’ (merasa cukup).

Lebih parah lagi, untuk mendapatkan uang kuliah, naik haji, dilakoni dengan korupsi, pungli, manipulasi, tipu-tipu dan cara haram lainnya. Seperti berwudlu dengan air kencing, tak akan mensucikan.

Baca lagi artikel ‘Makna Sukses’ disini

Rumusnya…

Ikhtiar + ibadah + Syukur = ditambah Nikmat

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,
tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.” ~ Quran.

Kecilkan angka cukupnya. Saat angka cukup terpenuhi, kata syukur terucap, maka nikmatnya ditambah. Kalo gak syukur alias kufur/ingkar, maka turunlah adzab.

Bagaimana yang sudah telanjur tinggi angka cukupnya?

Ada 2 cara:
Belajar ‘puasa’; menahan nafsu membeli diluar kebutuhan.
Menunggu bangkrut alias kepepet, sampai tak tersisa.

Tapi ada juga lho yang sudah kepepet, tetap saja masih gengsian. Itulah bahayanya penyakit gengsi, sukses baginya datang dari ‘pujian’ orang lain. Meski saat dia bangkrut, ‘si penonton’ tak turut melunasi hutangnya. Seolah ada bisikan, “Nanti apa kata orang..?!”.

Terapi Penyakit Gengsi

– Pahami lagi ‘Makna Sukses’ yang sesungguhnya.
– Seringlah melakukan ‘pelayanan’ (khidmat) kepada sesama.
– Datangi kaum dhuafa, belikan nasi bungkus jika ada kelebihan uang.
– Kumpul dengan orang yang sevibrasi dalam kesederhanaan.
– Unfollow semua ‘akun hedon’ dan materialis.
– Ganti bisikan menjadi, “Pusing amat apa kata orang..!” atau sejenis yang ‘masa bodoh’.
– Hindari mall, baik offline dan online. Karena banyak yang ‘ngendon’ di rumah, paketnya gak berhenti datang, hahaha..
– Puasa, dzikir, ngaji yang rutin. Yang ini saya juga lagi belajar..

“Gengsi tak membuatmu kaya, tapi membuatmu sengsara..”

Profesi Mulia Pengusaha

Bagaimana dengan pengusaha, apakah hanya mengejar angka cukup saja? Pengusaha haruslah ‘membantu orang lain mendapatkan angka cukupnya’. Bisnis adalah kendaraan, bukan tujuannya. Jangan terlena oleh kendaraan, sehingga lupa tujuan.

Seringkali saat ‘miskin’ punya tujuan mulia sebagai pengusaha, yaitu mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. Namun setelah menyicipi nikmatnya kekayaan, lupalah akan tujuan yang semula. Kemudian….

Membayar gaji serendah mungkin.
Menjadikan karyawan ‘mesin uang’ perusahaan.
Menawar supplier dan kontraktor semurah mungkin.
Membayar tagihan selama mungkin, sampe kiamat.
Mencaplok ‘lahan rejeki’ orang lain.
Menjual-beli perusahaan, gak memikirkan nasib karyawan setelahnya.
“Yang penting aku senang, aku menang…!” (seperti lagu: Bento)
Itulah namanya ke-se-ra-kah-an…!

Ubah Target Perusahaan

Siapa sih yang mengajarkan kita untuk menargetkan naiknya penjualan tiap tahunnya?
Omset atau profit itu tujuan atau jalan?

Jika tujuannya mensejahterakan karyawan, mengentaskan kemiskinan, maka harusnya seperti ini targetnya….
Target ke luar:
– Mengkampanyekan penggunaan produk dalam negeri.
– Menaikkan indeks kepuasan pelanggan menjadi 90%
Karena dengan menaikkan konsumsi produk lokal (dibanding impor), maka akan menggerakkan perekonomian sekitar.

Target ke dalam:
– Menambah karyawan 20 orang pertahun.
– Meng-umroh-kan 5 karyawan pertahun.
– Memfasilitasi pembelian rumah karyawan, dengan masa bakti diatas 5 tahun.
Jika itu targetnya, menaikkan omset/profit akan menjadi jalan (misi) untuk mencapai target, bukan sebaliknya.

Ingat rumusnya: Tujuan yang benar, baru rumuskan jalan yang berkah.

Susah ya? Iyaa… karena sudah telanjur mengakar kesalahan ‘ideologi’ kita. “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” hanya menjadi slogan yang diucapkan, bukan dilakukan. Butuh upaya yang besar untuk mengembalikan kemurnian Pancasila dalam kehidupan kita. Yuk mulai dari kita, karena ini amalan kita, bukan mereka.

Jika direnungkan kembali, ternyata ‘cukup’ itu adalah ‘kata’, bukan soal ‘angka’.

Referensi KHL: https://gajimu.com/gaji/gaji-minimum/komponen-khl

Komentar

Attachment