UTAMAKAN TUNAI

1259223620X310

 

Saya memohon ampunan Allah SWT terhadap segala kesalahan saya dan apa yang saya ajarkan sebelum ini.

 

Saya belajar dengan waktu dan kejadian. Karir sebagai pengusaha menurut saya adalah perjalanan spiritual yang padat ilmu nyata dan melibatkan orang lain. (Maaf) Berbeda jika kita sebagai karyawan, hanya berfikir menyelesaikan pekerjaan sesuai target, kemudian selesai. Jika rugi pun, bukan urusan diri pribadi, melainkan perusahaan. Bagaimana pun perasaan dan deg-degan-nya akan beda.

 

Sangat perlu belajar bisnis kepada orang yang mengerti syariat (fiqih). Karena syariat adalah rambu-rambu, manual book yang diturunkan Allah untuk menghindarkan manusia dari kebinasaan.

 

Di Era Materialis dan Oportunis saat ini, secara tak sadar kita (termasuk saya) telah dicekoki dan mencekoki paham-paham yang berujung mendzolimi diri sendiri dan orang lain. Tak sadar, karena sejak kecil pendidikan kita juga mengajarkan seperti itu.

 

Masih ingat Prinsip Ekonomi? Apa definisinya? “Bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan menekan biaya sekecil-kecilnya”. Betul? Itulah prinsip ekonomi ala Kapitalis. Yang benar yang mana? Benar menurut versi mana dulu? Kalau Anda di bagian ‘hulu’, apakah Anda mau ditekan dengan harga serendah-rendahnya dan pembayaran selama-lamanya? Tinggal nambah “Aamiin…”.

 

Kenapa tidak kita membayar dengan harga sewajarnya atau ‘reasonable price’, bukan ‘the cheapest price’ yang menimbulkan perang harga?

 

Segerakan Pembayaran

 

Dulu saya sering mewartakan, “Kalau bisa pembayaran itu ditunda sampai kiamat atau setidaknya 1 abad.”. Kenapa? Supaya duitnya bisa ‘diputerin’ untuk kulakan lagi atau ‘cashflow’.

 

Saya mulai menyadari ajaran ini adalah ajaran sesat (versi saya) setelah saya mengalami kebangkrutan dalam sebuah proyek di grup sinar***. Awalnya mereka menjanjikan pembayaran 2 mingguan dan kami mengestimasikan menjadi 1-2 bulanan. Sehingga perencanaan pendanaan proyek yang kita hitung berdasar estimasi cashflow yang akan kita terima dan gulirkan untuk operasional lagi. Namun kenyataannya mereka menunda pembayaran jauh melebihi janji. Alhasil cashflow kami seret, ditambah dengan ‘bunga’ (riba) yang harus dibayar, alhamdulillaah proyek tersendat dan kena penalti, kemudian bangkrut miliaran. Pelajaran yang mahal bagi saya.

 

Contoh kasus lain yang sering dialami adalah “Kenapa terjadi praktek tengkulak?”. Karena tengkulak yang memberikan dana tunai, bukan hypermarket seperti Carefour (sengaja sebut, karena terkenal lama bayarnya). Kalo petani langsung memasok ke mereka dan kroninya, niscaya dia akan kehabisan darah untuk menanam lagi. Ya iya, bayarnya bisa sampe 3 bulan.

 

Nah, tanpa kita sadari, para penguasa hulu yang memegang kendali sering ‘semena-mena’ dalam hal pembayaran. Untuk membangun raksasa bisnisnya, mereka menggunakan duit pengusaha mikro, bahkan pra sejahtera sebagai penopang cash flow mereka. Anda yang berada di tengah pun juga berusaha menekan pemasok lain di belakang Anda, terus sampe ke petani. Itulah sistem kapitalis. Kekuasaan memenangkan posisi tawar.

 

Wajar kah? Sangat wajar di dunia yang penuh keserakahan.

 

Belum selesai penjelasan saya..

Bagaimana jika duit orang lain yang seharusnya bisa Anda bayarkan segera, tapi Anda gunakan untuk perputaran perusahaan Anda? Sah saja kalau sudah ada perjanjian kan? Meski perjanjian itupun TERPAKSA, daripada order-nya lari ke perusahaan lain. Betul?

 

Masalahnya adalah saat perusahaan itu rugi besar atau bangkrut dan tak dapat membayar kewajiban, maka perusahaan tersebut akan membangkrutkan perusahaan-perusahaan lain di belakangnya. Kenapa? Karena tak ada agunan atas hutang.

 

Serupa dengan fenomena uang kertas dunia yang tak di-back up oleh emas. Jika negaranya bangkrut, yang pegang uang kertas, akan gigit jari.

 

Agunan

 

Beda jika hutang disertai dengan agunan. Jika terjadi sesuatu, ya sita saja agunannya, lelang, beres. Asal nilai agunannya tak dimanipulasi seperti jaman orba yaa.. #PREETT

 

Nah, 2 prinsip itu jika kita pegang, in syaa Allah sudah mengurangi faktor kemungkinan merugikan orang lain dan diri sendiri di masa mendatang.

 

Ya, 2 Prinsip itu:
1. Segerakan Pembayaran (Tunai jika mungkin), hindari hutang.

  1. Berikan AGUNAN yang setara saat berhutang.

 

Tentu masih banyak kaidah bisnis berkah lainnya selain itu. Itu hanya salah duanya. Yuk perbaiki sedikit demi sedikit. Kuncinya gampang koq:
“Jangan Serakah, biar hidup jadi Berkah..!”

 

—————————————————————————

Yukbisnis dibawah pimpinan saya masih melakukan kesalahan diatas. Saya berjanji segera menyegerakan sistem pembayaran yang ada. Doakan yukbisnis laris dan untung besar, atau mendapat investor yang syariah, atau jalan lain yang diridloi Allah, aamiin.

 

Komentar

About Author

Jaya Setiabudi

Bukan ustad, bukan motivator, juragan ajah.. | Pengarang buku best seller The Power of Kepepet & Kitab AntiBangkut | Pendiri Young Entrepreneur Academy | Owner Yukbisnis.com | Pengusaha dengan jam terbang lebih dari 15 tahun | Contact person: 082121204555

Attachment